Famadihana - Ritual Dansa Bareng Mayat Suku Merina Madagaskar

Ritual upacara pemakaman Famadihana di Madagaskar. Semua orang suka meriahnya pesta, tak terkecuali mereka yang telah mati. Di telinga masyarakat kita hal ini mungkin terdengar aneh, tapi tidak bagi suku Merina di dataran tinggi pedalaman Madagaskar.

Disana ada ritual menggali kuburan sanak keluarga yang telah mati untuk diajak berpesta dan menari. Tradisi itu bernama Famadihana atau “The Turning of the Bones”. Dunia Barat lebih mengenalnya sebagai “Dancing With the Dead.

Diadakan pada bulan-bulan tertentu di musim dingin. Meski terlihat aneh dan mengerikan, namun ritul ini sejatinya mempresentasikan bentuk pemujaan yang indah, luhur dan jujur.

Semakin banyak Anda tahu tentang Famadihana, Anda akan merasakan bahwa bukan hanya ritual itu sendiri yang penting, tetapi ide di baliknya.

Ritual Upacara Pemakaman Famadihana

Ritual Famadihana - Madagaskar


Famadihana adalah tradisi pemakaman di Madagaskar. Dikenal juga sebagai upacara ‘pembalikkan tulang’. Prosesinya cukup sederhana.

Ritual sakral ini diawali dengan pengangkatan sejumlah sanak keluarga yang telah meninggal dari ruang bawah tanah leluhur berdasarkan silsilah keluarga.

Anggota keluarga yang hidup dengan hati-hati mengupas pakaian pemakaman dari mayat-mayat dan membungkusnya kembali dengan kain sutra yang baru.

Setelah itu, perayaan dimulai. Para pelayat minum-minum, bercakap-cakap, dan menari disekitar jasad dengan iringan musik.

"Kami membungkus tubuh mayat yang membusuk dan menari bersama mereka," kata antropolog Dr. Miora Mamphionona.

Orang-orang suku Merina percaya bahwa roh-roh orang yang telah mati akan bergabung ke dunia para leluhur setelah jasad mereka terurai (dekomposisi).

Mereka juga meyakini jika para leluhur adalah perantara bagi yang hidup dengan Tuhan dan karena itu memiliki kekuatan untuk campur tangan dalam persoalan di bumi.

Tepat sebelum matahari terbenam, jasad-jasad itu dengan hati-hati dikembalikan ke makam dengan posisi terbalik. Ruang bawah tanah kemudian ditutup untuk dibuka kembali lima hingga tujuh tahun ke depan.

Tradisi unik lainnya : Seppuku – Ritual Bunuh Diri Merobek Perut Ala Jepang

Festival Famadihana

Fakta Mistis Dibalik Famadihana


Selain aneh, prosesi pemakaman ini ternyata juga menyimpan beberapa fakta unik seperti yang tertulis di bawah ini :

Keluarga sudi memakan kain bekas pembungkus mayat

Kain sutra pembungkus jasad leluhur dipercaya memiliki kekuatan di dalamnya. Para wanita yang mandul seringkali memotong selubung kain kafan dan menyimpannya di bawah bantal mereka. Atau malah memakannya.

Memprioritaskan keuangan pada sanak keluarga yang telah mati, meski hidup miskin

Tradisi budaya di Madagaskar memperlakukan kematian sebagai bagian penting kehidupan. Kenyataannya, leluhur yang telah meninggal sangat dihormati.

Keuangan diprioritaskan pada makam keluarga dan pesta-pesta Famadihana sehingga tak jarang keluarga yang ditinggalkan rela hidup dalam kemiskinan.

Selfie bersama barisan mayat orang-orang tersayang

Sebagian besar orang lebih suka berfoto bersama keluarga saat liburan. Tentunya dengan latar belakang pemandangan yang indah. Orang suku Merina pun demikian. Hanya saja, mereka  lebih bahagia saat selfie bersama deretan mayat kerabat tersayang yang telah mati.

Orang mati sebagai perantara Tuhan mereka

Orang suku Merina sepintas mirip penganut monoteistik (percaya pada satu dewa yang berkuasa). Namun sebenarnya mereka adalah mono-DEIST, karena mereka tidak percaya bahwa tuhan mengabulkan doa mereka secara langsung.

Mereka percaya bahwa orang mati adalah pendoa syafaat kepada dewa dan bertindak sebagai pengawas serta pelindung keluarga.

Di dunia Barat, keyakinan ini hampir mirip dengan konsep "the Guardian Angel” atau malaikat penjaga. Tidak sama dengan "Force Ghosts", tapi mirip-mirip seperti itu.

Famidihana diwajibkan untuk keluarga yang mampu

Pesta Famadihana terjadi kira-kira setiap dua sampai tujuh tahun, tergantung kemampuan moneter keluarga. Suku Merina memberlakukan sistem kasta yang sangat ketat, dan umumnya kasta yang lebih tinggi dan kaya akan lebih sering mengadakan pesta.

Biasanya generasi tunggal menggelar pesta Famadihana empat atau lima kali untuk menghormati leluhur sebelumnya.

Tiap keluarga di suku Merina diharapkan mengadakan Famadihana kapan saja mereka secara finansial mampu melakukannya. Ketika secara financial memungkinkan, tapi tidak menghormati leluhur maka akan dianggap sebagai pelanggaran serius.

Suku Merina percaya jika kekuatan muncul setelah kematian

Ini hanyalah kiasan yang sering Anda lihat dalam film dimana ritual merayakan kematian orang yang dicintai secara tulus dan terhormat.

Kenyataannya, perayaan seperti itu jarang terjadi. Tapi Famahidana adalah pengecualian. Mindset sebuah kekuatan yang muncul setelah datangnya kematian.

Ada ‘perdagangan jiwa’ setelah kematian

Suku Merina mengenal beberapa jenis jiwa yang berbeda. Dalam kehidupan, jiwa adalah pengikut yang menentukan kepribadian, karakteristik, dan perilaku seseorang.

Anda dapat memiliki fanahy baik atau buruk dalam hidup. Setelah kematian, fanahy ini bisa diperjualbelikan untuk mendapatkan ambiroa (jiwa orang setelah kematian).

Jiwa ini bukanlah "hantu" seperti dalam film Casper - itu lebih dari esensi khusus yang mampu menembus segala hal. Ambiroa dianggap maha hadir, kecuali selama Famadihana berlangsung.

Saat festival, ambiroa dipanggil dari satu dimensi dan terkonsentrasi kembali ke dalam tubuh aslinya untuk ikut berpesta.

Tarian upacara Famadihana

Penutup


Upacara yang diadakan setiap tujuh tahunan ini merupakan jenis ritual yang baru ada. Pertama digelar sekitar abad ke-17. Budaya ini dipengaruhi oleh sistem upacara pemakaman ganda di Asia Tenggara.

Sayangnya, praktik Famadihana kini makin jarang dilakukan. Selain karena biaya yang mahal (salah satunya dari kain kafan sutra untuk melapisi jasad), juga adanya tentangan dari pihak Evangelis.

Pihak Gereja Katolik sendiri menganggap famadihana adalah murni budaya tanpa menyinggung masalah religius.

Ada seorang penduduk Madagaskar yang menerangkan kepada BBC bahwa Famadihana dilakukan karena itu adalah cara mereka menghormati leluhur serta sarana berkumpul bagi seluruh keluarga besar mereka.

0 komentar