Seppuku – Ritual Bunuh Diri Merobek Perut Ala Jepang

Ritual bunuh diri Seppuku di Jepang. Pada tahun 1999, terjadi insiden menggemparkan di Jepang. Masaharu Nonaka melakukan ritual seppuku (bunuh diri) dengan pisau ikan setebal 14 inch hingga merobek isi perutnya.

Nonaka (58 tahun) adalah manager di Bridgestone Corporation. Aksi nekatnya ini dilakukan sebagai bentuk protes akibat restrukturisasi perusahaan yang mengakibatkan dirinya dipecat.

Di Jepang sendiri, memang kerap terjadi kasus bunuh diri dengan metode yang cukup aneh bagi kebanyakan orang.

Fenomema Seppuku ini tak lepas dari riwayat tradisi leluhur mereka sejak ratusan tahun silam – ialah Bushido.

Ritual Bunuh Diri Seppuku di Jepang

Apa itu Bushido?


Pemikiran Bushido dikembangkan sejak periode Kamakura (1192-1333) hingga digeneralisasi menjadi sistem yang komprehensif selama periode Tokugawa (1603 - 1867) yang digabungkan dengan ajaran Konfusianisme.

Konfusius adalah seorang filsuf Tionghoa dengan kepercayaan bahwa kesempurnaan masyarakat bisa dicapai jika orang-orang yang tinggal di dalamnya berperilaku indah.

Istilah Bushido sendiri berasal dari nilai-nilai moral yang menjadi kode etik para Samurai.

Tradisi unik lainnya : Keunikan Bayanihan, Tradisi Gotong Rumah saat Pindahan

Sejarah Bushido


Para Samurai memegang teguh keyakinan Konfusius tentang 'pria sempurna'. Mereka diajarkan dan dilatih untuk memberi contoh kebajikan kepada kasta-kasta yang lebih rendah.

Selama abad ke-19, pelatihan etika diajarkan kepada seluruh masyarakat melalui prinsip dan nilai Bushido.

Banyak orang yang dikenal sebagai pendekar Jepang kuno diambil sumpahnya untuk selalu menjunjung tinggi cita-cita mereka dan tetap setia dan siap mengorbankan diri kepada masyarakat.

Spirit ini berkontribusi pada bangkitnya nasionalisme Jepang dalam memperkuat semangat sipil tentaranya ketika masa perang hingga tahun 1945.

Namun kode etik Bushido telah berubah secara historis, terutama sejak masuknya pengaruh ajaran Zen Buddhisme dan Konfusianisme.

Meskipun ada satu keyakinan yang tidak berubah yaitu semangat bela diri, termasuk keterampilan atletik dan militer serta tak gentar terhadap musuh dalam setiap pertempuran.

Prosesi Seppuku Samurai dan Kaishakunin

Seppuku - Ritual Bunuh Diri Seorang Samurai


Tradisi Seppuku telah turun temurun dalam sejarah samurai Jepang sebagai salah satu cara paling mengerikan dan menyakitkan untuk mengakhiri hidup seseorang.

Kesetiaan terhadap penguasa, loyalitas, dan pengabdian kepada Kaisar, itu semua adalah konsep yang tertulis dalam naskah kuno Bushido. Konsep ini benar-benar merujuk pada akses Konfusianisme terhadap filsafat Bushido.

Samurai adalah orang yang dikenal bersikap adil, sopan, tenang dan konsisten untuk lebih menonjolkan eksistensi dirinya sebagai samurai.

Dalam estetika Bushido, tujuan akhir peperangan seorang samurai adalah penghargaan tertinggi sebagai bentuk penebusan menuju dunia kekal (akhirat).

Dalam tradisi Bushido, kegagalan adalah bentuk penghinaan bagi seorang samurai dan keluarga mereka.

Samurai yang lalai dalam tugas akan diminta untuk melakukan seppuku (bunuh diri) oleh tuannya. Selain untuk menebus rasa malu, prosesi ini dianggap sebagai jalan  kematian yang damai dan terhormat.

Saat ritual seppuku, samurai biasanya mengenakan pakaian putih yang melambangkan “puisi kematian”.

Sang samurai akan duduk tegak dengan ujung pisau tanto (belati) menempel diperut. Selama prosesi seppuku, samurai didampingi oleh kaishakunin (orang kedua) yang hadir dengan pedang terhunus.

Setelah samurai menghunjamkan tanto ke perut, kaishakunin akan segera memenggal kepala samurai yang sekarat.

Dalam perkembangannya, orang-orang Barat kerap menyebut seppuku dengan sebutan “hari kari”. Istilah ini berasal dari bahasa Jepang “harakiri” yang memiliki arti “memotong perut”.

Tradisi aneh yang lain : Thaipusam, Festival Tindik Paling Ekstrem dan Menyakitkan

Hilangnya Tradisi Seppuku di Jepang


Ritual berumur ratusan tahun itu sempat diterapkan oleh para tentara militer Jepang. Seppuku mengalami sedikit kebangkitan selama Perang Dunia II ketika seorang perwira Jepang memilih untuk bunuh diri dengan pedang mereka daripada menyerah pada pasukan Sekutu.

Seperti pada tradisi budaya dunia lainnya, tenggelamnya Seppuku adalah akibat pergeseran budaya Jepang yang mulai condong ke dunia modern selama abad ke-19.

Dengan pasukan Sekutu yang menguasai Jepang dan tuntutan negara untuk mengadopsi Konstitusi Jepang atas Konstitusi Meiji, Jepang mulai menghadapi pergolakan budaya lainnya.

Sejak diberlakukannya pemerintahan parlementer, Kaisar hanya menjadi simbol. Akibatnya, tradisi seppuku tak lagi memiliki tempat di Jepang pada paruh kedua abad ke-20 sampai hari ini.

0 komentar